Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 75 ( Insya Allah )

 faedah tauhid ( 2)

Kuat Dan Sabarnya

ALLAH Subhaanaahuwata’aalaa

Selasa, 19 Juni 2012 18:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam
Allah begitu penyabar walau ada yang menyakiti-Nya. Orang NASHRANI mengklaim Allah memiliki ANAK atau KETURUNAN. Allah TIDAK MENYETUJUI  hal ini. Namun di balik itu, Allah masih memberikan pada makhluk-Nya rizki walau mereka menyakiti-Nya. Allah Maha KUAT dan Maha BERSABARlebih dari makhluk-Nya.

عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ »

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang lebih SABAR terhadap GANGGUAN yang ia DENGAR daripada Allah. Manusia menyatakan Allah memiliki ANAK. Akhirnya, Allah MEMAAFKAN dan masih memberi RIZKI pada mereka.” (HR. Bukhari no. 7378)

Hadits di atas menerangkan sifat SABAR bagi Allah, yaitu Allah begitu PENYABAR lebih dari orang-orang yang BERSABAR ketika menghadapi COBAAN. Imam Bukhari telah memasukkan hadits ini pada Bab firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sesungguhnya Allah Dialah Maha PEMBERI rezki Yang mempunyai KEKUATAN lagi Sangat KOKOH.” (QS. Adz Dzariyat: 58). Hal ini karena Imam Bukhari menilai bahwa yang dimaksudkan SABARNYA Allah kembali pada makna kuatnya Allah. Dari sinilah terlihat kaitan antara hadits di atas dengan judul bab yang dibawakan oleh Imam Bukhari. Hadits ini didukung pula oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,

شَتَمَنِى ابْنُ آدَمَ وَمَا يَنْبَغِى لَهُ أَنْ يَشْتِمَنِى ، وَتَكَذَّبَنِى وَمَا يَنْبَغِى لَهُ ، أَمَّا شَتْمُهُ فَقَوْلُهُ إِنَّ لِى وَلَدًا . وَأَمَّا تَكْذِيبُهُ فَقَوْلُهُ لَيْسَ يُعِيدُنِى كَمَا بَدَأَنِى

Manusia telah mencela-Ku dan tidak PANTAS baginya mencela-Ku. Dan manusia mendustakan-KU dan tidak PANTAS baginya berbuat seperti itu. Celaan manusia pada-Ku yaitu Aku dikatakan memiliki ANAK. Sedangkan mereka mendustakan-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak mungkin MENGHIDUPKANNYA kembali sebagaimana Aku telah menciptakannya” (HR. Bukhari no. 3193).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1. Menyatakan Allah memiliki ANAK atau KETURUNAN termasuk menyakiti Allah sebagaimana yang dilakukan oleh orang Nashrani dan orang musyrik.

2. Wajib MENSUCIKAN Allah dari ANAK. Allah sendiri telah MENSUCIKAN  diri-Nya dari demikian dalam berbagai ayat Al Qur’an sebagaimana dalam surat Al Ikhlas dan selainnya. Dan ini sebagai bantahan untuk orang YAHUDI, NASHRANI dan orang MUSYRIK.

3. Allah disifati dengan sifat SABAR terhadap yang menyakiti-Nya.

4. Tidak ada yang lebih SABAR dari Allah Ta’ala. Adapun menetapkan bahwa Allah memiliki nama “Ash Shobuur”, maka sebenarnya tidak ada dalil yang mendukung hal ini. Sebagian ulama ada yang menetapkan Allah dengan nama Ash Shobuur (Maha Penyabar) dan ada yang tidak menetapkannya. Di antara ulama yang menyebutkannya adalah Imam Tirmidzi dalam rangkaian nama-nama Allah (asmaul husna). Yang tepat menurut para ulama muhaqqiqin, merangkaikan 99 NAMA bagi Allah tidaklah disebutkan dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun hanya dikumpulkan oleh para perowi hadits saja.

5. Perbedaan antara “adza” (menyakiti) dan “dhoror” (mendatangkan bahaya atau memudhorotkan) bagi Allah Ta’ala. Tidak ada perbuatan manusia yang dapat memudhorotkan (mendatangkan BAHAYA pada) Allah. Namun kalau sebagian perbuatan hamba MENYAKITI Allah, kita katakan iya. Oleh karenanya, Allah menafikan (meniadakan) dhoror (bahaya) bagi diri-Nya sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا

Sesungguhnya mereka tidak dapat membahayakan Allah sedikitpun.” (QS. Ali Imran: 176).

Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى

Wahai hamba-Ku, kalian sungguh tidak dapat memberikan dhoror (bahaya) sehingga memudhorotkan-Ku.” (HR. Muslim no. 2577).

Namun kalau Allah disakiti (diberi “adza”) maka telah disebutkan dalam ayat,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang MENYAKITI Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” (QS. Al Ahzab: 57).

Begitu juga dalam hadits qudsi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ

Manusia telah menyakiti-Ku, mereka mencela WAKTU, padahal Aku-lah yang mengatur WAKTU” (HR. Bukhari no. 7491 dan Muslim no. 2246).

6. Konsekuensi dari sifat sabar bagi Allah adalah Dia MEMAAFKAN orang yang mencela-Nya dengan mengatakan Allah memiliki ANAK dan Dia masih tetap memberikan rizki padanya.

7. Nikmat dunia diberikan Allah pada orang baik dan orang jahat sekaligus. Jadi diberikan nikmat dunia pada seseorang tidak menunjukkan dia mulia.

8. Allah memiliki sifat MENDENGAR.

9. Allah Maha Mendengar orang yang mencela dan menyakiti-Nya. Lalu Allah memaafkan dan masih tetap memberi rizki pada mereka. Inilah yang menunjukkan sifat hilm atau kasih sayang Allah.

10. Haramnya melakukan segala yang dapat MENYAKITI Allah Ta’ala baik dengan perbuatan atau perkataan. Segala sesuatu yang menyakiti Allah menunjukkan bahwa Allah tidak menyukainya.

Moga menjadi faedah berharga bagi yang mau merenungkan indah dan mulianya nama dan sifat Allah.

(*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhohullah. Beliau seorang ulama senior yang sangat pakar dalam akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (27 Rajab 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’’ Ash Shohih.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 29 Rajab 1433 H

www.rumaysho.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 74 ( Insya Allah )

Orang yang Berjiwa Besar

Kategori: Akhlaq dan Nasehat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, HARTA tidak akan berkurang gara-gara SEDEKAH. Tidaklah seorang hamba memberikan MAAF -terhadap KESALAHAN orang lain- melainkan Allah pasti akan MENAMBAHKAN KEMULIAAN pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap RENDAH HATI (TAWADHU’) karena Allah (IKHLAS) melainkan pasti akan DIANGKAT derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])

……….

Hadits yang mulia ini memberikan berbagai PELAJARAN PENTING bagi kita, di antaranya:

  1. Hadits ini menganjurkan kita untuk bersikap IHSAN/SUKA berbuat BAIK kepada orang lain, entah dengan HARTA, dengan MEMAAFKAN kesalahan mereka, ataupun dengan bersikap TAWADHU’ kepada mereka (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  2. Anjuran untuk Banyak BERSEDEKAH. Karena dengan SEDEKAH itu akan membuat HARTANYA BERBAROKAH dan Terhindar dari BAHAYA. Terlebih lagi dengan BERSEDEKAH akan didapatkan Balasan PAHALA yang BERLIPAT GANDA (lihat Syarh Muslim [8/194]). Selain itu, SEDEKAH juga menjadi sebab terbukanya PintuPintu REZEKI (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  3. Anjuran untuk MENJAUHI sifat BAKHIL/KIKIR.
  4. KEBAKHILAN tidak akan menghasilkan KEBERUNTUNGAN
  5. Hadits ini menunjukkan KEUTAMAAN BERSEDEKAH dengan HARTA
  6. SEDEKAH adalah IBADAH
  7. Allah MENCINTAI orang yang SUKA BERSEDEKAH -dengan IKHLAS Tentunya
  8. Terkadang manusia MENYANGKA bahwa Sesuatu BERMANFAAT Baginya, namun apabila dicermati dari Sudut Pandang SYARI’AT maka hal itu justru TIDAK BERMANFAAT. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang Menjadikan HAWA NAFSU, PERASAAN, ataupun AKAL PIKIRANNYA Yang Terbatas sebagai Standar Baik TIDAKNYA Sesuatu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia Suka BERLAKU ZALIM dan BERSIFAT BODOH. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan KECENDERUNGAN Dirinya, Rasa Suka, Tidak Suka, ataupun Kebenciannya TERHADAP Sesuatu sebagai STANDAR untuk Menilai PERKARA yang BERBAHAYA atau BERMANFAAT Baginya. Akan tetapi sesungguhnya STANDAR YANG BENAR adalah apa yang ALLAH Pilihkan baginya, yang hal itu Tercermin dalam Perintah dan Larangan-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 89)
  9. Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya Menepis KERAGU-RAGUAN dan Menyingkap KESALAHPAHAMAN yang Bercokol di dalam HATI manusia
  10. Memberikan targhib/MOTIVASI merupakan salah satu METODE PENGAJARAN yang Diajarkan NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
  11. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya MEMOTIVASI Orang Lain untuk BERAMAL SALIH
  12. Anjuran untuk Memberikan MAAF kepada orang lain yang BERSALAH kepada KITASecara PRIBADI-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki SIFAT PEMAAF (lihat Syarh Muslim [8/194]).
  13. Di antara hikmah Memaafkan KESALAHAN ORANG adalah akan bisa MERUBAH MUSUH menjadi TEMAN -sehingga hal ini bisa menjadi SALAH SATU CARA untuk MEMBUKA JALAN DAKWAH-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  14. Allah MENCINTAI orang yang PEMAAF.
  15. Anjuran untuk bersikap TAWADHU’/RENDAH HATI. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh KETINGGIAN DERAJAT dan KEMULIAAN, ketika di DUNIA maupun di AKHERAT kelak (lihat Syarh Muslim [8/194]).
  16. HAKEKAT orang yang TAWADHU’ adalah orang yang TUNDUK kepada KEBENARAN, PATUH kepada PERINTAH dan LARANGAN Allah dan rasul-Nya serta Bersikap RENDAH HATI kepada Sesama MANUSIA, Baik kepada yang masih MUDA ataupun yang sudah TUA. Lawan dari TAWADHU’ adalah TAKABUR/SOMBONG (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  17. Allah MENCINTAI orang yang TAWADHU’
  18. LARANGAN bersikap TAKABUR; yaitu Menolak KEBENARAN dan MEREMEHKAN Orang Lain
  19. TAWADHU’ yang TERPUJI adalah yang DILANDASI dengan KEIKHLASAN, BUKAN yang DIBUAT-BUAT; yaitu Yang TIMBUL Karena Ada KEPENTINGAN DUNIA yang BERSEMBUNYI di BALIKNYA (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  20. Yang menjadi PENYEMPURNA dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah NIAT yang IKHLAS dalam beramal karena Allah (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  21. KETAWADHU’AN merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; KEIMANAN -dan itu yang paling pokok- serta ILMU yang dimilikinya. Bahkan, KETAWADHU’AN itu sendiri merupakan BUAH Agung dari IMAN dan ILMU yang TERTANAM dalam diri seorang hamba (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  22. Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk MENCARI Ketinggian dan KEMULIAAN Derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang PALING MULIA di sisi-Nya adalah yang PALING BERTAKWA (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan salah satu KUNCI KETAKWAAN adalah KEMAMPUAN untuk Mengekang HAWA NAFSU, sehingga orang TIDAK akan BAKHIL dengan HARTANYA, akan MUDAH MEMAAFKAN, dan TIDAK Bersikap AROGAN ataupun Bersikap SOMBONG di hadapan MANUSIA.
  23. Hadits ini menunjukkan keutamaan MENGEKANG HAWA NAFSU dan KEHARUSAN untuk MENUNDUKKANNYA kepada SYARI’AT Rabbul ‘alamin
  24. Hendaknya MENJAUHI sebab-sebab yang Menyeret kepada SIFAT-SIFAT TERCELA -misalnya; KIKIR dan SOMBONG– dan BERUSAHA untuk MENGIKISNYA jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya
  25. KEMULIAAN DERAJAT yang HAKIKI adalah di SISI Allah (DIUKUR dengan SYARI’AT), TIDAK Diukur dengan PANDANGAN Kebanyakan MANUSIA
  26. BISA JADI orang itu TIDAK DIKENAL atau RENDAH dalam PANDANGAN MANUSIASecara Umum-, AKAN TETAPI di SISI Allah dia adalah SOSOK yang SANGAT MULIA dan Dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang Tabi’in Terbaik namun TIDAK DIKENAL orang, DIREMEHKAN, dan TIDAK Menyukai POPULARITAS?
  27. PUJIAN dan SANJUNGAN Orang Lain kepada KITA Bukanlah STANDAR apalagi JAMINAN. Sebab KETINGGIAN derajat yang HAKIKI adalah di Sisi-Nya. Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya mengenai PUJIAN orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, “Wahai Abu Bakar –nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (PUJIAN) orang lain terhadapnya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilm, hal. 22). Ini adalah IMAM AHMAD, seorang yang Telah Hafal SATU JUTA hadits dan RELA Mempertaruhkan NYAWANYA demi Menegakkan SUNNAH dan Membasmi BID’AH. Demikianlah AKHLAK SALAF, aduhai… di manakah POSISI KITA bila DIBANDINGKAN dengan MEREKA? JANGAN-JANGAN kita ini TERGOLONG orang yang maghrur/TERTIPU dengan PUJIAN orang lain kepada KITA. Orang lain mungkin menyebut kita sebagai ‘ANAK NGAJI’, ORANG ALIM, ORANG SOLEH, atau bahkan AKTIFIS DAKWAH. Namun, sesungguhnya KITA SENDIRI Mengetahui tentang JATI DIRI KITA yang SEBENARNYA, segala puji hanya bagi Allah yang telah MENUTUPI AIB-AIB KITA di hadapan manusia… Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami
  28. ISLAM menyeru kepada AKHLAK yang MULIA
  29. Islam mengajarkan SIKAP PEDULI kepada SESAMA dan agar TIDAK BERSIKAP MASA BODOH terhadap NASIB atau KEADAAN MEREKA
  30. Sesungguhnya KETAATAN itu -meskipun terasa SULIT atau BERAT bagi JIWAPASTI akan MEMBUAHKAN MANFAAT BESAR yang KEMBALI kepada Pelakunya SENDIRI. Sebaliknya, KEDURHAKAAN/MAKSIAT itu -meskipun Terasa MENYENANGKAN dan ENAK– maka pasti akan BERDAMPAK JELEK bagi DIRINYA SENDIRI. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara PALING BERMANFAAT secara MUTLAK adalah KETAATAN Manusia kepada Rabbnya secara LAHIR maupun BATIN. Adapun perkara PALING BERBAHAYA baginya secara MUTLAK adalah KEMAKSIATAN kepada-Nya secara LAHIR ataupun BATIN.” (al-Fawa’id, hal. 89). Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), BISA JADI kalian MEMBENCI Sesuatu PADAHAL itu BAIK bagi KALIAN, dan BISA JADI kalian MENYENANGI Sesuatu PADAHAL itu adalah BURUK bagi kalian. Allah Maha MENGETAHUI, sedangkan KALIAN TIDAK MENGETAHUI -segala sesuatu-.” (QS. al-Baqarah: 216)
  31. Pahala besar bagi ORANG YANG BERJIWA BESAR; yaitu orang yang TIDAK SEGAN-SEGAN untuk MENYISIHKAN sesuatu yang DICINTAINYA -yaitu HARTAGuna BERINFAK di JALAN Allah, mau MELAPANGKAN DADANYA untuk MEMAAFKAN KESALAHAN orang lain KEPADANYA, serta Bersikap TAWADHU’ dan TIDAK MEREMEHKAN orang lain.
  32. Ketiga Macam Amal Soleh IniDENGAN IZIN ALLAH– bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang DERMAWAN, SUKA MEMAAFKAN, dan juga RENDAH HATI. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri BELIAU. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada BAGI KALIAN pada diri Rasulullah TELADAN yang BAIK, yaitu bagi orang yang BERHARAP kepada Allah dan HARI AKHIR serta Banyak MENGINGAT Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
  33. Di samping menyeru kepada PERSATUAN UMAT ISLAM -di atas KEBENARAN– maka Islam juga MENYERUKAN perkara-perkara yang menjadi PERANTARA atau SEBAB terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan Menganjurkan 3 HAL di atas: SUKA BERSEDEKAH -yang WAJIB ataupun yang SUNNAH-, SUKA MEMAAFKAN, dan BERSIKAP RENDAH HATI/TAWADHU’. Sesungguhnya, kalau kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan KEKACAUAN serta FITNAH yang TIMBUL di Medan DAKWAH-, akan kita dapati bahwa KEBANYAKAN di antara kita –BarangkaliAmat Sangat Kurang dalam Menerapkan KETIGA HAL tadi. Akibat Tidak Suka BERSEDEKAH, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah– yang tidak terurus dengan baik. AKIBAT SULIT MEMAAFKAN, PERMUSUHAN yang tadinya hanya BERSIFAT PERSONAL pun akhirnya MELEBAR menjadi PERMUSUHAN KELOMPOK. Akibat PERASAAN Lebih TINGGI dan GENGSI, jalinan UKHUWAH yang TERKOYAK pun seolah TAK bisa dijalin kembali. MASING-MASING pihak ingin MENANG SENDIRI dan BERAT MENDENGARKAN Pandangan atau ARGUMENTASI saudaranya. Maka yang terjadi adalah Sikap SALING MENYALAHKAN, dan Kalau Perlu MENJATUHKAN Kehormatan saudaranya tanpa ALASAN yang DIBENARKAN. Kalau Seperti itu CARANYA, ya tidak akan pernah KETEMU… Bisa jadi ini hanya sekedar ANALISA, namun tidak kecil KEMUNGKINANNYA itu MERUPAKAN REALITA yang ADA, wallahul musta’an. SEBAGIAN ORANG, setelah selesai Mendengar KRITIKAN dari Saudaranya SEKETIKA itu PULA ia memberikan ‘Serangan Balik’ kepada sang PENGKRITIK. Padahal, NASEHAT yang didengarnya belum lagi MERESAP ke dalam AKAL SEHATNYA. Karena merasa DIRINYA telah ‘DILECEHKAN’ dia pun berkata kepada temannya, “Saya juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu…” Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama BERLATIH untuk MENERIMA kritik dan NASEHAT dengan LAPANG DADA (lihat wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilm, hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi –hafizhahullah– dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul Yogyakarta, “Tidak ada seorang INSANPUN melainkan pasti pernah TERJATUH dalam kekeliruan… Namun, yang TERCELA adalah orang yang tetap BERSIKUKUH MEMPERTAHANKAN KESALAHANNYA.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang BERJIWA BESAR, Allahumma amin. Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahim.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id
Dari artikel Orang yang Berjiwa Besar — Muslim.Or.Id by null

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 73 ( Insya Allah )

Kehidupan manusia di dunia ini tidak akan terlepas dari dua hal, yaitu nikmat dan musibah. Begitu banyaknya nikmat yang diberikan oleh Allah, namun terkadang datang musibah yang berupa kesusahan dan kesedihan dan kedua hal ini (nikmat dan musibah) membutuhkan kesabaran dalam menerima dan menyikapinya. Sabar merupakah salah satu pilar kebahagiaan bagi seseorang yang akan memberikan ketenangan dan ketentraman di dalam jiwa manusia.

Pengertian Sabar

Syaikh Salīm ibn ‘Īd al-Hilālī dalam kitabnya, dalam bab ‘aṣ-Ṣabru al-Jamīl’ mendefinisikan sabar dalam tiga perkara. Pertama, sabar adalah memelihara (menetapkan) jiwa pada ketaatan kepada Allah dan selalu menjaganya, dan memeliharanya dengan keikhlasan serta memperbaikinya atau memperbagus dengan ilmu. Kedua, sabar adalah menahan jiwa dari maksiat dan keteguhannya dalam menghadapi syahwat dan perlawanannya terhadap hawa nafsu. Ketiga, sabar adalah keridhaan kepada qada’ dan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah tanpa mengeluh di dalamnya dan keputusasaan.

Sabar dalam Ketaatan Kepada Allah

Jalan menuju Allah adalah jalan yang penuh dengan rintangan. Sedangkan jiwa itu tidak dapat istiqamah di atas perintah Allah dengan mudah. Maka barang siapa yang ingin menundukkan dan mengekangnya maka di harus bersabar.

Sabar dalam ketaatan kepada Allah meliputi tiga hal, yaitu,

  1. Sabar sebelum melakukan ketaatan tersebut, yaitu dengan niat yang benar, ikhlas dan bersih dari riya’.
  2. Sabar ketika menjalankan ketaatan, yaitu dengan tidak lalai dalam melakukannya dan juga tidak bermalas-malasan.
  3. Sabar setelah beramal, seseorang tersebut hendaknya tidak menjadi ta’jub dengan dirinya dan menampakkan apa yang ia punya dalam rangka sum’ah dan riya`. Karena hal tersebut hanya akan menghapus amalan, pahala dan pengaruh-pengaruh yang seharusnya dia dapatkan. (Naḥwu Akhlāqi as-Salāfi : 105)

Sabar dalam ketaatan kepada Allah diantaranya adalah sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam mengamalkan dan sabar dalam mendakwahkannya. Tiga hal ini tercakup ke dalam firman Allah ta’ālā, (yang artinya) : ‘Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran’ (Q.S al-‘Asr: 1-3). Dalam surat tersebut Allah menyatakan bahwa seluruh manusia itu berada dalam kerugian, kecuali manusia-manusia yang disifati dengan empat sifat,

  1. Beriman kepada perkara-perkara yang diperintahkan oleh Allah. Keimanan ini tidak akan terwujud dengan tanpa adanya ilmu.
  2. Beramal shalih, mencakup seluruh amal kebaikan, dhahir maupun batin, berkaitan dengan hak-hak Allah ataupun hak-hak seorang hamba, ataukah itu amalan wajib atau sunnah.
  3. Saling menasehati dalam kebenaran (iman dan amal shalih), saling menasehati dalam keimanan kepada Allah dan beramal shalih, bersemangat kepadanya dan mencintainya.
  4. Saling menasehati untuk menetapi kesabaran. Bersabar dalam ketaatan kepada Allah, bersabar dalam menjauhi maksiat kepadaNya, dan bersabar terhadapt takdir yang telah ditetapkanNya.

Dengan kedua perkara pertama seorang hamba akan menyempurnakan dirinya, dan dengan dua perkara selanjutnya dia akan menyempurnakan orang lain. Maka ketika empat hal ini telah sempurna seorang hamba itu akan terselamatkan dari kerugian dan akan meraih kemenangan yang besar (Taisīru Karīmi ar-Raḥmāni: 1102).

Sabar Menjauhi Maksiat

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu).”

Oleh karena itu barang siapa yang menginginkan surga, maka dia harus bersiap untuk bersabar karena surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh hawa nafsu. Terkadang seseorang itu merasa bersabar menjuhi maksiat itu lebih berat daripada bersabar menjalankan ketaatan. Mungkin seseorang bisa bersabar melaksanakan shalat malam semalam suntuk, namun dia tidak bisa bersabar jika diminta meninggalkan perkara-perkara yang disenanginya yang tidak diperbolehkan oleh syari’at.

Sabar Menerima Takdir

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab beliau yang sangat agung, menyusun bab khusus mengenai sabar terhadap takdir, yaitu bab ‘minal īmāni billāhi aṣ-ṣabru ‘alā aqdārillāhi’ (salah satu ciri (bagian) dari keimanan kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah).

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17).

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikhhafizhahullahuta’alamengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.

Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.

Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allahjalla wa ‘alauntuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdirNya. (artikel muslim.or.id ‘Hakikat Sabar 1’)

Sabar adalah pedang yang tidak akan tumpul, tunggangan yang tidak akan tergelincir dan cahaya yang tidak akan padam. Akan tetapi sabar tidaklah semudah ketika kita mengucapkannya. Jika tidak, Allah tidak akan memberikan pahala yang besar untuk orang-orang yang bersabar, seperti dalam firmanNya, yang artinya “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S az-Zumār:10). Allah tidak akan memberikan kecintaan dan ma’iayyahNya (kebersamaanNya) seperti dalam firmanNya, yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S al-Baqarah : 153), “. . . Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (Q.S ali-‘Imran :146). Allah memberikan kebersamaan yang bersifat khusus kepada orang-orang yang bersabar, dan Allah akan menghilangkan kesusahan darinya dan akan memudahkan setiap kebaikan bagi orang-orang yang bersabar. Akan tetapi sabar tidak bisa kita lakukan dengan mudah, kita memerlukan pertolongan dari Allah.

Betapa perkara ini merupakan perkara yang tidak mudah karena hidup ini pada hakikatnya adalah untuk bersabar. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk bisa bersabar di setiap perkara yang kita hadapi. Baik itu dalam ketaatan kita kepada Allah dan menjauhi maksiat kepadaNya, juga dalam menetapi taqdirNya yang tidak pernah kita dapat mengira dan menyangkanya. Allāhu a’lam.

***

Muslimah.or.id
Penulis: Ummu Ahmad Rinautami Ardi Putri
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Rujukan:

  • Naḥwu Akhlāqi as-Salāfi, Syaikh Salīm ibn ‘Īd al-Hilālī
  • Taisīru Karīmi ar-Raḥmāni, Syaikh Abdur-rahmān ibn Nāṣir as-Sa‘dīy
  • Artikel muslim.or.id ‘Hakikat Sabar 1’, Abu Mushlih Ari Wahyudi
 http://muslimah.or.id/aqidah/sabar-itu-akan-selalu-indah.html
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 72 ( Insya Allah )

TIPS BERSABAR (2) :

SABAR KETIKA DISAKITI ORANG LAIN

Kategori: tazkiyatun nufus

Terdapat beberapa faktor yang dapat membantu seorang hamba untuk dapat melaksanakan KESABARAN jenis kedua (yaitu BERSABAR ketika DISAKITI orang lain, ed). [Di antaranya adalah sebagai berikut:]

PERTAMA, hendaknya dia mengakui bahwa Allah ta’ala adalah Zat yang MENCIPTAKAN Segala PERBUATAN hamba, Baik itu GERAKAN, DIAM dan KEINGINANNYA. Maka Segala Sesuatu yang DIKEHENDAKI Allah untuk TERJADI, PASTI akan terjadi. Dan segala sesuatu yang TIDAK DIKEHENDAKI Allah untuk TERJADI, maka PASTI TIDAK AKAN terjadi. Sehingga, Tidak Ada SATUPUN benda meski seberat DZARRAH (Semut Kecil, ed) yang BERGERAK di alam ini MELAINKAN dengan IZIN dan KEHENDAK Allah. Oleh karenanya, HAMBA adalah ‘ALAT. Lihatlah kepada ZAT yang menjadikan pihak lain menzalimimu dan janganlah anda melihat Tindakannya terhadapmu. (Apabila anda melakukan hal itu), maka anda akan terbebas dari segala KEDONGKOLAN dan KEGELISAHAN.

KEDUA, hendaknya seorang MENGAKUI akan SEGALA DOSA yang telah DIPERBUATNYA dan MENGAKUI bahwasanya tatkala Allah Menjadikan PIHAK LAIN Menzalimi (dirinya), maka itu semua dikarenakan DOSA-DOSA yang telah dia PERBUAT sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja MUSIBAH yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh PERBUATAN TANGANMU SENDIRI, dan Allah MEMAAFKAN sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuura: 30).

Apabila seorang hamba MENGAKUI bahwa SEGALA MUSIBAH yang menimpanya DIKARENAKAN DOSA-DOSANYA yang telah lalu, maka DIRINYA akan SIBUK untuk BERTAUBAT dan MEMOHON ampun kepada Allah atas DOSA-DOSANYA yang menjadi SEBAB Allah MENURUNKAN Musibah tersebut. Dia justru SIBUK melakukan hal itu dan Tidak Menyibukkan Diri MENCELA dan MENGOLOK-OLOK berbagai pihak yang TELAH menzaliminya.

(Oleh karena itu), apabila anda melihat seorang yang MENCELA manusia Yang Telah MENYAKITINYA dan justru Tidak Mengoreksi Diri dengan MENCELA Dirinya Sendiri dan BERISTIGHFAR kepada Allah, maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang dia alami justru adalah MUSIBAH Yang Hakiki. (SEBALIKNYA) apabila dirinya BERTAUBAT, BERISTIGHFAR dan mengucapkan,Musibah ini dikarenakan DOSA-DOSAKU yang telah saya perbuat.” Maka (pada kondisi demikian, musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi KENIKMATAN.

Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu pernah mengatakan SEBUAH kalimat yang INDAH,

لاَ يَرْجُوَنَّ عَبْدٌ إِلاَّ رَبَّهُ لاَ يَخَافَنَّ عَبْدٌ إلَّا ذَنْبَهُ

“Hendaknya seorang hamba HANYA BERHARAP kepada Rabb-nya dan hendaknya dia TAKUT terhadap AKIBAT yang akan diterima dari DOSA-DOSA yang telah diperbuatnya.”[1]

Dan terdapat sebuah ATSAR yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib dan selainnya, beliau mengatakan,

مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلَّا بِذَنْبِ وَلَا رُفِعَ إلَّا بِتَوْبَةِ

“Musibah TURUN disebabkan DOSA dan DIANGKAT dengan Sebab TAUBAT.”

KETIGA, hendaknya seorang Mengetahui PAHALA yang disediakan oleh Allah ta’ala bagi orang yang MEMAAFKAN dan BERSABAR (terhadap Tindakan ORANG LAIN yang Menyakitinya). Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan BALASAN suatu KEJAHATAN adalah KEJAHATAN yang SERUPA, maka barang siapa MEMAAFKAN dan BERBUAT BAIK, maka PAHALANYA atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai Orang-Orang Yang Zalim.” (QS. Asy Syuura: 40).

Ditinjau dari segi penunaian balasan, manusia terbagi ke dalam TIGA GOLONGAN, yaitu [1] GOLONGAN yang ZALIM karena melakukan PEMBALASAN yang MELAMPAUI BATAS, [2] GOLONGAN yang MODERAT yang Hanya MEMBALAS sesuai HAKNYA dan [3] Golongan Yang MUHSIN (Berbuat Baik) karena MEMAAFKAN pihak yang MENZALIMI dan justru Meninggalkan HAKNYA untuk MEMBALAS. Allah ta’ala menyebutkan KETIGA GOLONGAN INI dalam ayat di atas, bagian pertama bagi mereka yang moderat, bagian kedua diperuntukkan bagi mereka yang berbuat baik dan bagian akhir diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat zalim dalam melakukan pembalasan (yang melampaui batas).

(Hendaknya dia juga) mengetahui Panggilan Malaikat di hari kiamat kelak yang akan berkata,

أَلاَ لِيَقُمْ مَنْ وَجَبَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Perhatikanlah! Hendaknya BERDIRI orang-orang yang memperoleh BALASAN yang WAJIB ditunaikan oleh Allah!”[2]

(Ketika panggilan ini selesai dikumandangkan), tidak ada orang yang berdiri melainkan mereka yang (sewaktu di dunia termasuk golongan) yang (SENANTIASA) MEMAAFKAN dan BERSABAR (terhadap GANGGUAN Orang Lain kepada DIRINYA).

Apabila hal ini diiringi  dengan PENGETAHUAN bahwa segala pahala tersebut akan HILANG jika dirinya MENUNTUT dan melakukan BALAS DENDAM, maka tentulah dia akan mudah untuk bersabar dan memaafkan (setiap pihak yang telah menzaliminya).

KEEMPAT, hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dia MEMAAFKAN dan BERBUAT BAIK, maka hal itu akan menyebabkan Hatinya SELAMAT dari (berbagai KEDENGKIAN dan KEBENCIAN kepada SAUDARANYA) serta HATINYA akan TERBEBAS dari keinginan untuk melakukan BALAS DENDAM dan BERBUAT JAHAT (kepada pihak yang menzaliminya). (Sehingga) dia memperoleh KENIKMATAN MEMAAFKAN yang justru akan menambah KELEZATAN dan MANFAAT yang Berlipat-Lipat, baik manfaat itu dirasakan Sekarang atau Nanti.

Manfaat di atas tentu tidak sebanding dengan “kenikmatan dan manfaat” yang dirasakannya ketika melakukan pembalasan. Oleh karenanya, (dengan perbuatan di atas), dia (dapat) tercakup dalam firman Allah ta’ala,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Allah menyukai orang-orang yang BERBUAT KEBAJIKAN.” (QS. Ali Imran: 134).

(Dengan melaksanakan perbuatan di atas), dirinya pun menjadi pribadi yang dicintai Allah. Kondisi yang dialaminya layaknya seorang yang Kecurian SATU DINAR, namun dia malah menerima ganti puluhan ribu dinar. (Dengan demikian), dia akan merasa sangat gembira atas karunia Allah yang diberikan kepadanya melebihi Kegembiraan yang pernah Dirasakannya.

KELIMA, hendaknya dia mengetahui bahwa seorang yang Melampiaskan DENDAM semata-mata untuk Kepentingan NAFSUNYA, maka hal itu hanya akan Mewariskan KEHINAAN di dalam dirinya. Apabila dia MEMAAFKAN, maka Allah justru akan memberikan KEMULIAAN kepadanya. Keutamaan ini telah diberitakan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabdanya,

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

KEMULIAAN hanya akan ditambahkan oleh Allah kepada Seorang HAMBA yang bersikap PEMAAF.”[3]

(Berdasarkan hadits di atas) kemuliaan yang diperoleh dari sikap MEMAAFKAN itu (tentu) Lebih DISUKAI dan Lebih BERMANFAAT bagi dirinya daripada KEMULIAAN yang diperoleh dari Tindakan pelampiasan DENDAM. Kemuliaan yang diperoleh dari pelampiasan DENDAM adalah Kemuliaan LAHIRIAH semata, namun Mewariskan KEHINAAN Batin. (Sedangkan) sikap MEMAAFKAN (terkadang) merupakan KEHINAAN di dalam BATIN, namun Mewariskan Kemuliaan LAHIR dan BATIN.

KEENAM, -dan hal ini merupakan salah satu faktor yang PALING BERMANFAAT-, yaitu hendaknya dia mengetahui bahwa SETIAP BALASAN itu sesuai dengan amalan yang dikerjakan. (Hendaknya dia menyadari) bahwa DIRINYA adalah seorang yang ZALIM lagi PENDOSA. Begitupula hendaknya dia mengetahui bahwa setiap orang yang MEMAAFKAN kesalahan manusia terhadap dirinya, maka Allah pun akan MEMAAFKAN dosa-dosanya. Dan orang yang Memohonkan AMPUN setiap manusia yang berbuat salah kepada dirinya, maka Allah pun akan MENGAMPUNINYA. Apabila dia mengetahui PEMAAFAN dan PERBUATAN BAIK yang dilakukannya kepada berbagai pihak yang menzalimi merupakan sebab yang akan mendatangkan pahala bagi dirinya, maka tentulah (dia akan mudah) MEMAAFKAN dan BERBUAT KEBAJIKAN dalam rangka (MENEBUS) dosa-dosanya. Manfaat ini tentu sangat mencukupi seorang yang berakal (agar tidak melampiaskan dendamnya).

KETUJUH, hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dirinya DISIBUKKAN dengan urusan pelampiasan DENDAM, maka waktunya akan TERBUANG SIA-SIA dan HATINYA pun akan TERPECAH (tidak dapat berkonsentrasi untuk urusan yang lain-pent). Berbagai MANFAAT justru akan LUPUT dari genggamannya. Dan kemungkinan hal ini lebih BERBAHAYA daripada MUSIBAH yang ditimbulkan oleh berbagai pihak yang menzhaliminya. Apabila dia MEMAAFKAN, maka hati dan fisiknya akan merasa “fresh” untuk mencapai berbagai manfaat yang tentu lebih penting bagi dirinya daripada sekedar mengurusi perkara pelampiasan DENDAM.

KEDELAPAN, sesungguhnya pelampiasan DENDAM yang dilakukannya merupakan bentuk PEMBELAAN DIRI yang dilandasi oleh keinginan melampiaskan HAWA NAFSU.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan PEMBALASAN yang didasari keinginan PRIBADI, padahal menyakiti beliau termasuk tindakan menyakiti Allah ta’ala dan menyakiti beliau termasuk di antara perkara yang di dalamnya berlaku ketentuan ganti rugi.

Jiwa beliau adalah jiwa yang TERMULIA, TERSUCI dan TERBAIK. Jiwa yang paling jauh dari berbagai AKHLAK yang TERCELA dan paling BERHAK terhadap berbagai akhlak yang TERPUJI. Meskipun demikian, beliau tidak pernah melakukan PEMBALASAN yang didasari keinginan PRIBADI (jiwanya) (terhadap berbagai pihak yang telah MENYAKITINYA).

Maka bagaimana bisa SALAH SEORANG diantara KITA melakukan PEMBALASAN dan PEMBELAAN untuk DIRI SENDIRI, padahal dia TAHU kondisi JIWANYA SENDIRI serta KEJELEKAN dan AIB yang terdapat di dalamnya? Bahkan, seorang yang ARIF tentu (menyadari bahwa) jiwanya tidaklah pantas untuk MENUNTUT BALAS (karena AIB dan KEJELEKAN yang dimilikinya) dan (dia juga mengetahui bahwa jiwanya) tidaklah memiliki kadar KEDUDUKAN yang berarti sehingga PATUT untuk DIBELA.

Kesembilan, apabila seorang disakiti atas tindakan yang dia peruntukkan kepada Allah (ibadah-pent), atau dia disakiti karena melakukan KETAATAN yang diperintahkan atau karena dia MENINGGALKAN KEMAKSIATAN yang terlarang, maka (pada kondisi demikian), dia WAJIB BERSABAR dan tidak boleh melakukan PEMBALASAN. Hal ini dikarenakan dirinya telah disakiti (ketika melakukan ketaatan) di jalan Allah, sehingga BALASANNYA menjadi TANGGUNGAN Allah.

Oleh karenanya, ketika PARA MUJAHID yang BERJIHAD di jalan Allah KEHILANGAN NYAWA dan HARTA, mereka tidak memperoleh ganti rugi karena Allah telah MEMBELI NYAWA dan HARTA mereka.

Dengan demikian, GANTI RUGI menjadi TANGGUNGAN Allah, bukan DI TANGAN MAKHLUK. Barangsiapa yang menuntut GANTI RUGI kepada MAKHLUK (yang telah menyakitinya), tentu dia TIDAK LAGI memperoleh GANTI RUGI dari Allah. Sesungguhnya, seorang yang mengalami kerugian (karena disakiti) ketika beribadah di jalan Allah, maka Allah BERKEWAJIBAN memberikan gantinya.

Apabila dia tersakiti akibat musibah yang menimpanya, maka hendaknya dia MENYIBUKKAN DIRI dengan MENCELA dirinya sendiri. Karena dengan demikian, dirinya TERSIBUKKAN (untuk mengoreksi diri dan itu lebih baik daripada) dia MENCELA berbagai pihak yang telah menyakitinya.

Apabila dia tersakiti karena HARTA, maka hendaknya dia berusaha menyabarkan jiwanya, karena mendapatkan harta tanpa DIBARENGI dengan KESABARAN merupakan perkara yang lebih pahit daripada kesabaran itu sendiri.

Setiap orang yang tidak mampu bersabar terhadap panas terik di siang hari, terpaan hujan dan salju serta rintangan perjalanan dan gangguan perampok, maka tentu dia TIDAK USAH Berdagang.

Realita ini diketahui oleh manusia, bahwa setiap orang yang memang JUJUR (dan bersungguh-sungguh) dalam Mencari SESUATU, maka dia akan dianugerahi KESABARAN dalam mencari Sesuatu Itu sekadar KEJUJURAN (dan KESUNGGUHAN) yang dimilikinya.

KESEPULUH, hendaknya dia mengetahui KEBERSAMAAN, KECINTAAN Allah dan ridha-Nya kepada dirinya apabila dia BERSABAR. Apabila Allah membersamai seorang, maka segala bentuk GANGGUAN dan BAHAYA -yang tidak satupun makhluk yang mampu menolaknya- akan tertolak darinya. Allah ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Allah menyukai orang-orang yang BERSABAR.” (QS. Ali ‘Imran: 146).

KESEBELAS, hendaknya dia mengetahui bahwa KESABARAN merupakan sebagian daripada IMAN. Oleh karena itu, sebaiknya dia tidak mengganti sebagian IMAN tersebut dengan Pelampiasan DENDAM. Apabila dia BERSABAR, maka dia telah memelihara dan menjaga KEIMANANNYA dari aib (kekurangan). Dan Allah-lah yang akan MEMBELA orang-orang yang BERIMAN.

KEDUA BELAS, hendaknya dia mengetahui bahwa KESABARAN yang dia laksanakan merupakan hukuman dan pengekangan terhadap HAWA NAFSUNYA. Maka tatkala hawa nafsu TERKALAHKAN, tentu Nafsu tidak mampu MEMPERBUDAK dan MENAWAN dirinya serta menjerumuskan dirinya ke dalam berbagai KEBINASAAN.

Tatkala dirinya tunduk dan mendengar HAWA NAFSU serta terkalahkan olehnya, maka HAWA NAFSU akan senantiasa mengiringinya hingga NAFSU tersebut MEMBINASAKANNYA kecuali dia memperoleh RAHMAT dari Rabb-nya.

Kesabaran mengandung pengekangan terhadap hawa nafsu berikut setan yang (menyusup masuk di dalam diri). Oleh karenanya, (ketika kesabaran dijalankan), maka kerajaan hati akan menang dan bala tentaranya akan kokoh dan menguat sehingga segenap MUSUH akan TERUSIR.

KETIGA BELAS, hendaknya dia mengetahui bahwa tatkala dia BERSABAR , maka tentu Allah-lah yang menjadi PENOLONGNYA. Maka Allah adalah penolong bagi setiap orang yang bersabar dan memasrahkan setiap pihak yang menzaliminya kepada Allah.

Barangsiapa yang MEMBELA HAWA NAFSUNYA (dengan melakukan pembalasan), maka Allah akan MENYERAHKAN DIRINYA kepada hawa nafsunya sendiri sehingga dia pun menjadi PENOLONGNYA.

Jika demikian, apakah akan sama kondisi antara seorang yang DITOLONG Allah, Sebaik-Baik PENOLONG dengan seorang yang DITOLONG oleh HAWA NAFSUNYA yang merupakan PENOLONG yang PALING LEMAH?

KEEMPAT BELAS, KESABARAN yang dilakukan oleh seorang akan melahirkan Penghentian KEZHALIMAN dan PENYESALAN pada DIRI MUSUH serta akan menimbulkan CELAAN manusia kepada PIHAK YANG MENZALIMI. Dengan demikian, setelah menyakiti dirinya, pihak yang zhalim akan kembali dalam KEADAAN MALU terhadap PIHAK yang telah DIZALIMINYA. Demikian pula dia akan MENYESALI perbuatannya, bahkan bisa jadi pihak yang zalim akan berubah menjadi SAHABAT KARIB bagi pihak yang DIZHALIMI. Inilah makna firman Allah ta’ala,

ô ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushshilaat: 34-35).

KELIMA BELAS, terkadang pembalasan DENDAM malah menjadi sebab yang akan menambah KEJAHATAN sang MUSUH terhadap dirinya. Hal ini juga justru akan memperkuat dorongan HAWA NAFSU serta MENYIBUKKAN pikiran untuk memikirkan berbagai bentuk pembalasan yang akan dilancarkan sebagaimana hal ini sering terjadi.

Apabila dirinya BERSABAR dan MEMAAFKAN pihak yang menzhaliminya, maka dia akan terhindar dari berbagai bentuk keburukan di atas. Seorang yang berakal, tentu tidak akan memilih perkara yang lebih BERBAHAYA.

Betapa banyak pembalasan dendam justru menimbulkan berbagai keburukan yang sulit untuk dibendung oleh pelakunya. Dan betapa banyak jiwa, harta dan kemuliaan yang tetap langgeng ketika pihak yang dizalimi menempuh jalan memaafkan.

KEENAM BELAS, sesungguhnya seorang yang terbiasa MEMBALAS DENDAM dan TIDAK BERSABAR mesti akan terjerumus ke dalam kezaliman. Karena hawa nafsu tidak akan mampu melakukan PEMBALASAN DENDAM dengan ADIL, baik ditinjau dari segi pengetahuan (maksudnya hawa nafsu tidak memiliki parameter yang pasti yang akan menunjukkan kepada dirinya bahwa pembalasan dendam yang dilakukannya telah sesuai dengan kezaliman yang menimpanya, pent-) dan kehendak (maksudnya ditinjau dari segi kehendak, hawa nafsu tentu akan melakukan pembalasan yang lebih, pent-).

Terkadang, hawa nafsu tidak mampu membatasi diri dalam melakukan pembalasan dendam sesuai dengan kadar yang dibenarkan, karena KEMARAHAN (ketika melakukan pembalasan dendam)  akan berjalan bersama pemiliknya menuju batas yang tidak dapat ditentukan (melampaui batas, pent-). Sehingga dengan demikian, posisi dirinya yang semula menjadi pihak yang dizalimi, yang menunggu pertolongan dan kemuliaan, justru berubah menjadi pihak yang zalim, yang akan menerima kehancuran dan siksaan.

KETUJUH BELAS, kezaliman yang diderita akan menjadi sebab yang akan MENGHAPUSKAN berbagai dosa atau mengangkat derajatnya. Oleh karena itu, apabila dia membalas dendam dan tidak bersabar, maka kezaliman tersebut TIDAK akan MENGHAPUSKAN dosa dan tidakpula mengangkat derajatnya.

KEDELAPAN BELAS, kesabaran dan pemaafan yang dilakukannya merupakan pasukan terkuat yang akan membantunya dalam menghadapi sang musuh.

Sesungguhnya setiap orang yang BERSABAR dan MEMAAFKAN pihak yang telah menzaliminya, maka sikapnya tersebut akan melahirkan kehinaan pada diri sang musuh dan menimbulkan ketakutan terhadap dirinya dan manusia. Hal ini dikarenakan manusia tidak akan tinggal diam terhadap kezaliman yang dilakukannya tersebut, meskipun pihak yang dizalimi mendiamkannya. Apabila pihak yang dizalimi membalas dendam, seluruh KEUTAMAAN itu akan terluput darinya.

Oleh karena itu, anda dapat menjumpai sebagian manusia, apabila dia menghina atau menyakiti pihak lain, dia akan menuntut PENGHALALAN dari pihak yang telah dizaliminya. Apabila pihak yang dizalimi mengabulkannya, maka dirinya akan MERASA lega dan beban yang dahulu dirasakan akan hilang.

KESEMBILAN BELAS, apabila pihak yang dizalimi MEMAAFKAN sang musuh, maka hati sang musuh akan tersadar bahwa KEDUDUKAN Pihak yang dizalimi berada di atasnya dan dirinya telah menuai keuntungan dari kezaliman yang telah dilakukannya. Dengan demikian, sang musuh akan senantiasa memandang bahwa kedudukan dirinya berada DI BAWAH KEDUDUKAN pihak yang telah dizaliminya. Maka tentu hal ini cukup menjadi KEUTAMAAN dan kemuliaan dari sikap MEMAAFKAN.

KEDUA PULUH, apabila seorang MEMAAFKAN, maka sikapnya tersebut merupakan suatu kebaikan yang akan melahirkan berbagai kebaikan yang lain, sehingga kebaikannya akan senantiasa BERTAMBAH.

Sesungguhnya balasan bagi setiap kebaikan adalah KONTINUITAS KEBAIKAN (kebaikan yang berlanjut), sebagaimana balasan bagi setiap keburukan adalah KONTINUITAS KEBURUKAN (keburukan yang terus berlanjut). Dan terkadang hal ini menjadi sebab KESELAMATAN dan KESUKSESAN ABADI. Apabila dirinya melakukan PEMBALASAN DENDAM, seluruh hal itu justru akan terluput darinya.

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات[4]

Diterjemahkan dari risalah Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau-

Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id


[1] Lihat penjelasan perkataan beliau ini dalam Majmu’ al Fatawa (8/161-180).

[2] HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih serta selain mereka berdua dari sahabat Ibnu’ Abbas dan Anas. Lihat ad Durr al Mantsur (7/359).

[3] HR. Muslim (2588) dari sahabat Abu Hurairah.

[4] Selesai diterjemahkan dengan bebas dari risalah Al Qo’idatu fish Shobr, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, pada hari Senin, tanggal 27 Rabi’ul Awwal 1430 H, Griya Cempaka Arum K4/7, Bandung.
Dari artikel Tips Bersabar (2): Sabar Ketika Disakiti Orang Lain — Muslim.Or.Id by null

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 71 ( Insya Alah )

TIPS BERSABAR ( 1 ) :

MACAM – MACAM SABAR

Kategori: Tazkiyatun Nufus

Allah ta’ala telah memberikan KEBAIKAN di setiap KONDISI yang dialami oleh para hamba-Nya yang BERIMAN, sehingga mereka senantiasa berada dalam rengkuhan nikmat Allah ta’ala.

Mereka mengalami segala kejadian yang MENYENANGKAN dan MENYEDIHKAN, namun SEGALA TAKDIR yang ditetapkan Allah BAGI MEREKA merupakan BARANG PERNIAGAAN yang memberikan UNTUNG yang Teramat BESAR.

Hal ini ditunjukkan dalam sebuah sabda yang diucapkan oleh PEMIMPIN dan SURI TAULADAN bagi orang-orang yang BERTAKWA, yaitu nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh MENAKJUBKAN urusan SEORANG MUKMIN. Segala perkara yang dialaminya Sangat MENAKJUBKAN. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan KEBAIKAN. Apabila KEBAIKAN dialaminya, maka ia BERSYUKUR, dan hal itu merupakan KEBAIKAN baginya. Dan apabila KEBURUKAN menimpanya, dia BERSABAR dan hal itu merupakan KEBAIKAN baginya.”[1]

Hadits ini mencakup SELURUH takdir-Nya yang DITETAPKAN bagi para hamba-Nya yang BERIMAN. Dan Segala Takdir itu akan bernilai KEBAIKAN, apabila sang hamba BERSABAR terhadap TAKDIR Allah yang TIDAK Menyenangkan dan BERSYUKUR atas TAKDIR Allah yang DISUKAINYA.

Bahkan, hal ini turut tercakup ke dalam kategori KEIMANAN sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (٥)

“Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang PENYABAR dan Banyak BERSYUKUR.” (QS. Ibrahim: 5).

Apabila seorang hamba memperhatikan SELURUH ajaran AGAMA ini, maka dia akan mengetahui bahwa segenap ajaran agama berpulang pada KEDUA hal tadi, yaitu KESABARAN dan RASA SYUKUR. Hal itu dikarenakan KESABARAN terbagi menjadi TIGA JENIS sebagaimana berikut[2].

PERTAMA: Sabar dalam melakukan KETAATAN sampai seorang Melaksanakannya. Hal ini dikarenakan seorang hamba hampir dapat dipastikan tidak dapat melakukan Segala Perkara yang DIPERINTAHKAN kepadanya kecuali setelah BERSABAR, berusaha keras untuk BERSABAR dan BERJIHAD melawan Segenap MUSUH, baik yang TAMPAK maupun yang TIDAK TAMPAK. KESABARAN jenis inilah yang mempengaruhi penunaian seorang hamba terhadap segala perkara yang DIWAJIBKAN dan DIANJURKAN kepada dirinya.

KEDUA: KESABARAN terhadap segala perkara yang TERLARANG sehingga dirinya TIDAK mengerjakan berbagai LARANGAN tersebut. Sesungguhnya NAFSU, TIPU DAYA SETAN, dan Teman Sejawat yang BURUK akan Senantiasa MEMERINTAHKAN dan MENYERET seseorang untuk BERBUAT KEMAKSIATAN. Oleh karenanya, kekuatan KESABARAN jenis ini mempengaruhi tindakan seorang hamba dalam meninggalkan segenap KEMAKSIATAN. Sebagian ulama salaf[3] mengatakan,

أَعْمَالُ الْبِرِّ يَفْعَلُهَا الْبَرُّ وَ الْفَاجِرُ, وَ لاَ يَقْدِرُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي إِلاَّ صِدِّيْقٌ

“Setiap orang yang BAIK maupun yang FAJIR (Pelaku KEMAKSIATAN) turut melakukan KEBAIKAN. Namun hanya orang yang BERTITEL SHIDDIQ yang mampu meninggalkan seluruh perkara MAKSIAT.”

KETIGA: KESABARAN terhadap MUSIBAH yang Menimpanya. MUSIBAH ini terbagi Menjadi DUA,

JENIS PERTAMA: Jenis MUSIBAH yang TIDAK dipengaruhi oleh Turut Campur Tangan MAKHLUK seperti Penyakit dan Musibah lain yang Praktis TIDAK turut dipengaruhi oleh campur TANGAN Manusia. Seorang hamba MUDAH BERSABAR dalam menghadapi Musibah JENIS ini.

Hal itu dikarenakan seorang hamba mengakui bahwasanya Musibah JENIS ini termasuk ke dalam TAKDIR Allah yang TIDAK dapat DITENTANG olehnya, (sehingga) manusia TIDAK Mampu turut campur dalam PERMASALAHAN ini. (Dalam hal ini), sang HAMBA hanya mampu BERSABAR, baik itu TERPAKSA maupun SUKARELA.

Apabila Allah membukakan pintu untuk merenungi BERBAGAI FAEDAH, Kenikmatan dan kelembutan Allah yang DIPEROLEHNYA dari musibah tersebut, maka dirinya pun Berpindah dari Derajat BERSABAR atas musibah yang menimpanya menuju derajat BERSYUKUR dan RIDHA atas musibah tersebut. Dengan seketika, MUSIBAH tadi berubah menjadi NIKMAT yang dirasakannya, sehingga LISAN dan HATINYA senantiasa berkata,

رَبِّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Wahai Rabb-ku, TOLONGLAH aku untuk senantiasa mengingat-Mu, BERSYUKUR kepada-Mu serta MEMPERBAIKI Segala Peribadatanku kepada-Mu.”[4]

KESABARAN jenis ini bergantung kepada kekuatan CINTA seorang HAMBA kepada Allah ta’ala, (sehingga meskipun Hamba tertimpa musibah, dia justru dapat BERSABAR karena kekuatan cinta-Nya kepada Allah ta’ala). Hal ini (KESABARAN seorang terhadap PERBUATAN yang TIDAK Menyenangkan dari SEORANG yang dicintainya-pent) dapat disaksikan dalam KEHIDUPAN sehari-hari, sebagaimana perkataan Sebagian Penyair[5] yang memanggil sang KEKASIH yang TELAH Menyakitinya. Dia mengatakan,

لَئِنْ سَاءَنِي أَنْ نِلْتَنِي بِمَسَاءَةٍ

لَقَدْ سَرَّنِي أَنِّي خَطَرْتُ بِبَالِكَ

MESKIPUN (sang kekasih) TELAH Menyakitiku

Namun KENANGAN di Balika (bersama kekasih) yang terlintas di benak, sungguh telah MENYENANGKAN hatiku

JENIS KEDUA,[6] adalah MUSIBAH berupa TINDAKAN manusia yang MENGANGGU harta, KEHORMATAN dan JIWA seorang.

BERSABAR terhadap Musibah JENIS ini sangat SULIT dilakukan, karena JIWA Manusia akan Senantiasa MENGINGAT pihak yang telah MENYAKITINYA. Begitupula Jiwa (CENDERUNG) Enggan DIKALAHKAN sehingga dia Senantiasa berupaya untuk MENUNTUT BALAS. Oleh karenanya, hanya PARA NABI dan orang-orang yang BERTITEL Shiddiq saja yang MAMPU BERSABAR terhadap musibah jenis ini.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila DISAKITI, beliau hanya mengucapkan,

يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى لَقَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah Merahmati Musa. Sungguh beliau telah Disakiti (oleh kaumnya) dengan (musibah) yang LEBIH daripada (ujian yang saya alami ini), NAMUN beliau dapat BERSABAR.”[7]

Salah sorang Nabi pun (BERSABAR dan HANYA) berkata ketika DIPUKUL oleh Kaumnya,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Ya Allah AMPUNILAH kaumku, karena sungguh mereka TIDAK Mengetahui.”[8]

Telah diriwayatkan dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah MENGALAMI ujian yang DIALAMI oleh nabi tadi dan beliau mengucapkan Perkataan yang Serupa.[9]

(Dengan demikian), UCAPAN DO’A tersebut mengumpulkan TIGA PERKARA, yaitu PEMAAFAN (dari pihak yang DISAKITI) terhadap tindakan mereka, PERMINTAAN AMPUN kepada Allah untuk mereka dan PENGAJUAN DISPENSASI (kepada Allah) dikarenakan KETIDAKTAHUAN mereka.

(Apabila seorang melakukannya), maka KESABARAN jenis ini akan menghasilkan PERTOLONGAN, PETUNJUK, KEBAHAGIAAN, KEAMANAN dan KEKUATAN serta MEMPERTEBAL rasa cinta Allah dan manusia terhadap dirinya juga menambah KEILMUAN orang tersebut.

Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ

‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu Pemimpin-Pemimpin yang memberi petunjuk dengan PERINTAH Kami ketika mereka SABAR. dan adalah mereka MEYAKINI ayat-ayat kami.” (QS. As Sajdah: 24).

Sehingga, KEPEMIMPINAN dalam agama dapat DIPEROLEH dengan KESABARAN dan keyakinan (keimanan)[10]. Apabila kekuatan keyakinan dan keimanan mengiringi kesabaran ini, maka seorang hamba akan menaiki berbagai TINGKATAN KEBAHAGIAAN dengan KARUNIA Alah ta’ala. Dan itulah KARUNIA Allah yang diberikan-Nya kepada SIAPA yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Oleh karenanya Allah berfirman,

ô ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

TOLAKLAH (kejahatan itu) DENGAN CARA yang LEBIH BAIK, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada PERMUSUHAN seolah-olah telah menjadi teman yang Sangat Setia. Sifat-sifat yang BAIK itu TIDAK DIANUGERAHKAN melainkan kepada orang-orang yang SABAR dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai KEUNTUNGAN yang BESAR.” (QS. Fushshilaat: 34-35).

-bersambung insya Allah-

Diterjemahkan dari risalah Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau-

Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id


[1] HR. Muslim (2999) dari Shuhaib.

[2] Lihat perkataan penulis dalam Majmu’ al Fatawa (10/574-577, 14/304-306).

[3] Beliau adalah Sahl at Tusturi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al Hilyah (10/211).

[4] Do’a ini merupakan salah satu do’a yang berasal dari nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad (5/244, 247), Abu Dawud (1522) dan An Nasaa-i (3/53) dari sahabat Mu’adz bin Jabal.

[5] Dia adalah Ibnu Ad Daminah. Bait sya’ir di atas merupakan qashidah miliknya yang masyhur. Sebagian qashidah tersebut terdapat dalam Hamasah Abi Tamam (2/62-63) dan redaksi lengkapnya terdapat dalam Diwan beliau (halaman 13-18).

Qashidah di atas terdapat dalam 12 bait sya’ir pada kitab Al Fushush karya Sha’id (1/67-70) dan juga terdapat dalam seluruh kitab rujukan sya’ir pada qafiyah (rima) huruf kaf yang berharakat kasrah.

[6] Demikianlah yang tertera dalam kitab asli. Namun, yang lebih tepat adalah musibah di atas adalah jenis kedua dari dua jenis musibah yang disebutkan oleh penulis.

[7] HR. Bukhari (3150, 3405 dan berbagai tempat lainnya), Muslim (1062) dari sahabat Ibnu Mas’ud.

[8] HR. Bukhari (3477 dan 6929), Muslim (1792) dari sahabat Ibnu Mas’ud.

[9] HR. Ath Thabarani dari Sahl bin Sa’ad sebagaimana terdapat dalam Majma az Zawaa-id (6/117). Al Haitsami mengatakan, “Seluruh rijal hadits ini merupakan rijal kitab Shahih.”

[10] Lihat Majmu’ al Fatawa (10/39).
Dari artikel Tips Bersabar (1): Macam-macam Kesabaran — Muslim.Or.Id by null

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 70 ( Insya Allah )

Batas KESABARAN

(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI)

ORANG bilang, “SABAR ada BATASNYA”, “HABIS kesabaranku”, “SESABAR-SABARNYA orang, Akhirnya tak tahan juga”. Apa atau dimanakah sebenarnya Batas Kesabaran yang DIBENARKAN dalam ISLAM? Apakah Perkataan yang demikian itu DIBENARKAN dalam ISLAM?

Saat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam MARAH ketika Mendapatkan KEKELIRUAN BESAR yang dilakukan oleh Sebagian SAHABAT, apakah BERARTI beliau telah KEHABISAN kesabarannya? Tentu Saja TIDAK. Begitu pula ketika beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam harus BANGKIT melakukan PERLAWANAN terhadap MUSUH atas IZIN dan PERINTAH Allâh Ta’âla. JUSTERU hal itu Merupakan salah satu bentuk PENDIDIKAN KESABARAN yang PALING Berharga.

BERSABAR untuk MARAH, atau MARAH dalam KESABARAN adalah PERKARA yang TIDAK MUDAH. Umumnya orang MARAH karena Memperturutkan HAWA NAFSU. TETAPI, tidak demikian dengan yang dilakukan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dan yang beliau perintahkan kepada umatnya. Itulah yang disebut, MARAH KARENA Allâh Ta’âla, BUKAN KARENA Memperturutkan HAWA NAFSU. MARAH yang demikian adalah Beban yang hanya AKAN terlaksana jika dilakukan dengan SABAR. Seorang MUSLIM yang TIDAK lagi MARAH melihat KEMUSYRIKAN, BID’AH dan KEMAKSIATAN Merajalela di muka BUMI, Sedikitnya merupakan orang yang TIDAK Punya KECEMBURUAN terhadap ISLAM. Dan ia TERMASUK Orang yang TIDAK Memiliki KESABARAN untuk MARAH terhadap KEMUNGKARAN tersebut.

SABAR sesungguhnya merupakan Salah Satu ajaran ISLAM yang AGUNG, Namun sangat BERAT. BERSABAR untuk MARAH, BERSABAR menahan Amarah, BERSABAR untuk Selalu ISTIQAMAH menapaki ajaran ISLAM sesuai dengan SUNNAH Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dan para sahabat, BERSABAR untuk tidak TERGESA-GESA, BERSABAR untuk Tidak MENYIMPANG, BERSABAR untuk MENJAUHI Larangan, maupun BERSABAR menerima MUSIBAH dari Allâh Ta’âla, semuanya merupakan perkara yang BERAT. Itulah sebabnya, orang yang SABAR pasti selalu DISERTAI oleh Allâh Ta’âla.

Dan bersabarlah, Sesungguhnya Allâh Beserta Orang-Orang Yang Sabar.
(QS Al Anfal : 46)
Jika SABAR bergabung dengan TAQWA, maka TIPU DAYA MUSUH, Betapapun PIAWAINYA, Tidak akan MEMBAHAYAKAN.

Jika kamu BERSABAR dan BERTAQWA,
niscaya TIPU DAYA mereka SEDIKITPUN tidak mendatangkan KEMUDHARATAN kepadamu. Sesungguhnya Allâh mengetahui Segala Apa Yang mereka KERJAKAN.
(QS Ali Imran : 120)
SABAR mempunyai kedudukan yang TINGGI dalam ISLAM. Seseorang akan Memperoleh KEDUDUKAN sebagai Pemimpin yang Mulia di sisi Allâh Ta’âla, dan dapat menjadi Panutan umat, manakala ia BERSABAR dan Betul-Betul MEYAKINI ayat-ayat Allâh Ta’âla.

Dan Kami jadikan di antara mereka itu PEMIMPIN-PEMIMPIN
yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka BERSABAR,
dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
(QS As Sajdah/32 : 24)
Diperlukan PERJUANGAN yang Sungguh-Sungguh hingga seseorang bisa BERSABAR dan Mengalahkan HAWA NAFSUNYA. Yang jelas, SABAR dalam Islam TIDAK ADA BATASNYA.

Wallâhu a’lam

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 69 ( Insya Allah )


Indahnya SABAR

Kategori: Tazkiyatun Nufus

Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Hakekat KESABARAN itu adalah teguh di atas AL-KITAB dan AS-SUNNAH.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Ibnu ‘Atha’ rahimahullah berkata,SABAR adalah menyikapi musibah dengan ADAB/CARA yang BAIK.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Hakekat dari SABAR yaitu tidak MEMPROTES sesuatu yang sudah Ditetapkan dalam TAKDIR. Adapun Menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk BERKELUH-KESAH -kepada MAKHLUK– maka hal itu TIDAK meniadakan KESABARAN.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7])

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, SABAR secara bahasa artinya adalah MENAHAN diri. Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), ‘Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka’. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari’at, SABAR adalah: menahan diri di atas KETAATAN kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk MENINGGALKAN Kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. …” (I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)

Macam-Macam Sabar

al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, SABAR yang dipuji ada beberapa macam: [1] SABAR di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula SABAR dalam MENJAUHI Kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian SABAR dalam MENANGGUNG Takdir yang terasa MENYAKITKAN. SABAR dalam menjalankan KETAATAN dan SABAR dalam MENJAUHI perkara yang DIHARAMKAN itu lebih utama daripada SABAR dalam menghadapi TAKDIR yang terasa menyakitkan…” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 279)

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki HAK untuk Diibadahi oleh hamba di saat TERTIMPA Musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan KENIKMATAN.” Beliau juga mengatakan,“Maka SABAR adalah KEWAJIBAN yang selalu MELEKAT kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk Selama-Lamanya. SABAR merupakan penyebab untuk Meraih segala Kesempurnaan.” (Fath al-Bari [11/344]).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Adapun SABAR dalam menjalankan KETAATAN kepada Allah dan sabar dalam Menjauhi KEMAKSIATAN kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari KEIMANAN. Bahkan, kedua hal itu merupakan POKOK dan CABANGNYA. Karena pada hakekatnya IMAN itu secara KESELURUHAN merupakan KESABARAN untuk MENETAPI apa yang Dicintai Allah dan Diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus SABAR dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini Berporos pada TIGA pokok utama: [1] MEMBENARKAN berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] MENJALANKAN Perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] MENJAUHI larangan-larangan keduanya…” (al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 105-106)

SABAR merupakan AKHLAK para Rasul

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah DIDUSTAKAN rasul-rasul sebelummu maka mereka pun BERSABAR menghadapi tindakan pendustaan tersebut, dan mereka pun DISAKITI sampai datanglah kepada mereka PERTOLONGAN Kami.” (QS. al-An’am: 34)

Sabar membuahkan KEBAHAGIAAN hidup

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam KEBENARAN dan saling menasihati untuk menetapi KESABARAN.” (QS. al-’Ashr: 1-3)

Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu mengatakan, “Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran.” (HR. Bukhari secara mu’allaq dengan nada tegas, dimaushulkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd dengan sanad sahih, lihat Fath al-Bari [11/342] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)

Sabar penopang keimanan

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah BAIK untuknya. Dan hal itu TIDAK ADA kecuali pada diri Seorang MUKMIN. Apabila dia mendapatkan KESENANGAN maka dia pun BERSYUKUR, maka hal itu adalah KEBAIKAN untuknya. Apabila dia tertimpa KESULITAN maka dia pun BERSABAR, maka hal itu juga sebuah KEBAIKAN untuknya.” (HR. Muslim [2999] lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim[9/241])

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, SABAR adalah Separuh KEIMANAN.” (HR. Abu Nu’aim dalamal-Hilyah dan al-Baihaqi dalam az-Zuhd, lihat Fath al-Bari [1/62] dan [11/342]). Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan, SABAR bagi keimanan Laksana KEPALA dalam tubuh. Apabila KESABARAN telah LENYAP maka LENYAP pulalah KEIMANAN.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [31079] dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ [3535], lihat Shahih wa Dha’if al-Jami’ as-Shaghir [17/121] software Maktabah asy-Syamilah).

SABAR penepis FITNAH

Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…Dan SABAR itu adalah cahaya -yang panas-…” (HR. Muslim [223], lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/6] cet. Dar Ibn al-Haitsam tahun 2003). Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “… Fitnah SYUBHAT bisa ditepis dengan KEYAKINAN, sedangkan Fitnah SYAHWAT dapat ditepis dengan BERSABAR. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan KEPEMIMPINAN dalam agama tergantung pada KEDUA perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka Bisa BERSABAR dan senantiasa MEYAKINI ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan Bekal SABAR dan KEYAKINAN itulah akan bisa dicapai KEPEMIMPINAN dalam hal AGAMA. Allah juga memadukan Keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling MENASEHATI dalam Kebenaran dan saling MENASEHATI untuk menetapi KESABARAN.” (QS. al-’Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi FITNAH SYUBHAT, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang FITNAH SYAHWAT…” (dikutip dariadh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir yang disusun oleh Syaikh Ali ash-Shalihi [5/134], lihat juga Ighatsat al-Lahfan hal. 669)

Sabar membuahkan HIDAYAH bagi hati

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan IZIN Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan PETUNJUK ke dalam hatinya.” (QS. at-Taghabun: 11)

Ibnu Katsir menukil keterangan al-A’masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa RIDHA dan PASRAH kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan MENUNJUKI Hatinya– Sehingga MAMPU Mengucapkan ISTIRJA’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)

Hikmah dibalik MUSIBAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan KEBAIKAN maka Allah SEGERAKAN baginya HUKUMAN di dunia. Dan apabila Allah menghendaki KEBURUKAN Untuknya maka Allah akan MENAHAN hukumannya SAMPAI akan DISEMPURNAKAN balasannya kelak DI HARI KIAMAT.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat as-Shahihah [1220])

Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa ada kalanya Allah ta’ala memberikan MUSIBAH kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka MEMBERSIHKAN Dirinya dari KOTORAN-KOTORAN DOSA yang pernah dilakukannya SELAMA hidup. Hal itu SUPAYA nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka BEBAN yang dibawanya SEMAKIN Bertambah RINGAN. Demikian pula terkadang Allah memberikan MUSIBAH kepada sebagian orang AKAN TETAPI Bukan karena RASA CINTA dan PEMULIAAN dari-Nya kepada mereka NAMUN dalam rangka MENUNDA Hukuman mereka di ALAM DUNIA sehingga nanti PADA AKHIRNYA di Akherat mereka akan MENYESAL dengan TUMPUKAN DOSA yang Sedemikian BESAR dan Begitu BERAT beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan MERASAKAN bahwa Dirinya memang BENAR-BENAR LAYAK menerima SIKSAAN Allah. Allah memberikan KARUNIA kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan HUKUMAN kepada siapa saja dengan Penuh KEADILAN. Allah tidak perlu DITANYA tentang apa yang dilakukan-Nya, NAMUN mereka -PARA HAMBA- itulah yang harus Dipertanyakan tentang PERBUATAN dan TINGKAH POLAH mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi dalam al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275)

Setelah kita mengetahui BETAPA INDAHNYA SABAR, maka sekarang pertanyaannya adalah: sudahkah kita mewujudkan Nilai-Nilai Kesabaran ini dalam KEHIDUPAN kita? Sudahkah kita menjadikan SABAR sebagai pilar KEBAHAGIAAN kita? Sudahkah SABAR Mewarnai HATI, LISAN, dan GERAK-GERIK badan Anggota kita?

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id
Dari artikel Indahnya Sabar — Muslim.Or.Id by null

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar